• Hotline Number: +62 821 333 333 22
  • Email:info@indotekhnoplus.com
1 2 3 4 5 6
jquery slideshow by WOWSlider.com v8.8

 

Mengapa Menggunakan Produk Kami ?

Mudah Digunakan

Mudah digunakan dan dilengkapi dengan Buku Petunjuk (Manual Book) dan Video Tutorial dalam Bahasa Indonesia

Perlindungan Garansi

Disertai garansi 1 tahun dan layanan purna jual hingga 5 tahun, memberikan keamanan dan kenyamanan dalam menggunakan produk kami

Portable Environment Device System

Dilengkapi dengan Media Digital Portabel untuk mengakses EHIS dan berbagai aplikasi pengukuran lainnya

Fasilitas EHIS

EHIS memberikan kemudahan kepada user untuk membuat laporan, mapping lokasi pengukuran, dan lain-lain

Standar Internasional

Perusahaan kami sudah terdaftar dengan sertifikasi ISO 9001 : 2008, 14001 : 2004, 18001 : 2007

Resmi & Terdaftar

Kami memiliki dokumen dan legalitas yang lengkap untuk semua produk yang kami jual

Dukungan Teknis

Dukungan Teknis kami siap membantu dalam konsultasi / pelatihan ke seluruh Indonesia

Menggunakan Tas Hard Carrying Case

Beberapa Produk kami menggunakan Tas Hard Carrying Case agar tahan air, debu dan benturan

Pengukuran Berbagai Parameter

Produk kami meliputi pemeriksaan kulitas air, udara, lingkungan, tanah, makanan/ minuman secara fisik, kimia dan mikrobiologi

Siaga Banjir

2018-11-14 09:25:08

Jakarta,  Musim hujan yang cenderung mencapai puncak intensitas di pertengahan November ini telah menyebabkan banjir di beberapa kota dan kabupaten di Indonesia. Berdasarkan data yang dirangkum dari Kantor Berita Antara, pada Selasa, tercatat tujuh kota dan kabupaten dilanda banjir, yakni, Jakarta, Bandung, Pekanbaru, Cilacap, Bengkulu, Pangandaran dan Jambi. Semua musibah banjir itu mengakibatkan dampak beragam bagi rutinitas masyarakat. Tentu saja adanya ancaman keselamatan warga terdampak. Selain gangguan terhadap aktivitas sehari-hari, banjir juga mengancam produksi pangan. Tanaman padi seluas 2.177 hektare di Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau, dipastikan puso akibat banjir yang melanda wilayah tersebut dalam sepekan terakhir. Di Jakarta, banjir juga menghantui sebagian wilayah karena meluapnya sungai dan tersumbatnya aliran air saat hujan akibat sampah. Hal itu bisa dilihat saat hujan deras di Jakarta dan sekitarnya pada Minggu (11/11) petang hingga malam, yang menyebabkan ratusan ton sampah menggenang dan tersangkut di pintu air Manggarai, Jakarta Pusat. Data yang disampaikan Kepala Satuan Pelaksana Unit Pelaksana Kebersihan (UPK) Badan Air Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat Rohmat di Jakarta, Selasa, sungguh memrihatinkan. Sampah-sampah tersebut tidak langsung datang seketika hujan turun namun beberapa jam setelahnya. Ketika itu setelah hujan besar malamnya, baru sekitar pukul 02:30 WIB sampah mulai penuh di pintu air Manggarai ini. Sampah-sampah itu terdiri atas berbagai jenis mulai yang berasal dari alam seperti batang pohon, hingga sampah rumah tangga seperti plastik, styrofoam sampai kasur bahkan kulkas. Sampah-sampah itu diangkut mulai dari Senin (12/11) pagi sekitar pukul 07.00 WIB hingga pukul 22.30 WIB. Pada Selasa dilanjutkan pengangkutannya. Sampah yang diangkut dari pintu air Manggarai sebanyak 77 truk berkapasitas masing-masing truk sekitar dua ton, dengan rincian 66 truk pada Senin (12/11) dan 11 truk pada Selasa hingga pukul 14.00 WIB. Petugas pun masih melakukan pekerjaan untuk mengangkut sampah tersebut. Sulit Dipahami Terkait dengan jenis sampah yang beragam dan mungkin tidak masuk akal seperti kasur dan kulkas, Rohmat mengaku hal tersebut sering kali terjadi kala hujan deras melanda. Sulit dipahami bagaimana itu bisa terjadi? Apakah karena terbawa oleh arus air yang deras atau sengaja dibuang karena arus air kuat dan volumenya tinggi. Namun, kenyataan tersebut sulit dipahami sekaligus sulit diperoleh jawabannya. Tentu saja, jenis sampah yang beragam tersebut menjadi pekerjaan berat bagi petugas untuk membersihkannya. Selain itu, sampah-sampah tersebut kerap menjadi salah satu penyebab banjir karena air tidak leluasa mengalir. Dengan sudah banyaknya sampah yang diangkut, kini debit air di pintu air Manggarai terpantau di batas normal sekitar 600 sentimeter. Sampah-sampah tersebut dibawa ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Jalan Perintis Kemerdekaan. Selanjutnya dibawa oleh truk yang lebih besar ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Kota Bekasi, yang jauhnya sekitar 40 kilometer dari Tugu Monas. Begitu kompleks dan membutuhkan proses yang panjang untuk mengatasi akibat banjir di kota metropolitan ini. Waspada Perihal ancaman bencana banjir kini juga menjadi perhatian serius Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Apalagi musim hujan diperkirakan belum mencapai titi puncak sehingga membutuhkan kewaspadaan semua pihak.. Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengimbau masyarakat untuk mewaspadai bahaya banjir dan longsor pada musim hujan ini. Diperkirakan curah hujan akan terus meningkat dalam hari-hari atau pekan-pekan ke depan. Berdasarkan siklus cuaca yang telah dipahami selama ini, umumnya puncak musim penghujan berlangsung pada Januari. Karena itu, masih cukup panjang rentang waktu untuk mengantisipasi musibah banjir. Menurut data BNPB, hingga Oktober 2018 telah terjadi 2.076 kejadian bencana yang menyebabkan 4.165 orang meninggal dan hilang.. Sedangkan sepanjang Oktober 2018 saja terjadi 171 bencana dengan korban meninggal dan hilang mencapai 42 jiwa. Bencana paling banyak adalah banjir, yakni 52 kejadian, kebakaran hutan dan lahan (49 kejadian), puting beliung (41 kejadian) dan tanah longsor (20 kejadian). Selain banjir, tanah longsor juga harus menjadi perhatian berbagai pihak. Hal itu karena, curah hujan yang tinggi juga berpotensi menyebabkan longsor. Dengan demikian, curah hujan yang tinggi menimbulkan dua ancaman, yakni banjir dan longsor. Curah hujan tinggi, maka bahaya longsor juga akan meningkat. Bisa Dicegah Karena itu, BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi longsor dan memahami daerah-daerah yang menjadi wilayah rawan longsor. Peta daerah rawan longsor dapat diunduh melalui portal resmi Badan Geologi, sedangkan beberapa tips menghadapi bencana longsor dapat diunduh melalui portal resmi BNPB. Satu hal yang perlu menjadi tekad pihak terkait adalah kerugian yang kemungkinan terjadi akibat bencana longsor bisa dicegah. Caranya, pemerintah daerah dan masyarakat perlu mengembangkan sistem peringatan dini di daerah yang rawan bencana longsor. Pemerintah daerah dan masyarakat juga harus melakukan penyebarluasan informasi gerakan tanah melalui berbagai media dan cara agar warga setempat memahami kemungkinan longsor terjadi. Longsor biasanya terjadi pada lereng-lereng bukit atau gunung. Untuk mencegah longsor, maka masyarakat di sekitar lereng tersebut harus didorong untuk membudidayakan tanaman pertanian dan perkebunan yang sesuai dengan azas pelestarian lingkungan dan kestabilan lereng. Cara lainnya adalah menghindari bermukim atau mendirikan bangunan di tepi lembang sungai yang terjal dan membuat percetakan sawah baru atau kolam pada lereng yang terjal sehingga mengakibatkan tanah mudah bergerak. Selain itu, pemerintah daerah dan masyarakat juga harus mencegah penggalian pada daerah bawah lereng terjal yang bisa mengganggu kestabilan lereng sehingga mudah terjadi longsor. Sebagai musibah yang sering terjadi di musim hujan, tentunya banyak pihak yang paham mengenai penyebab banjir dan longsor. Persoalannya adalah bagaimana mengantisipasi dan mencegahnya karena mencegah lebih baik daripada mengatasi. Ke depan yang dibutuhkan tampaknya adalah tekad dan tindakan nyata yang konsisten dalam mengatasi masalah ini dengan fokus kepada pencegahan. Tentunya dengan kebijakan pembangunan yang terpadu serta terkoordinasi antarintansi dan antardaerah. Sumber : (ANTARA News)

Baca lebih lanjut

BMKG: Indonesia tidak masuk rilis polusi udara WHO

2018-08-20 15:13:07

Jakarta - Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati membantah tudingan Indonesia sebagai negara dengan kualitas udara terburuk karena Indonesia tidak masuk dalam rilis Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO). "Jakarta atau Indonesia sendiri tidak termasuk di dalam negara-negara yang dirilis WHO dari paparan polusi udara dan dampak kesehatan," kata Dwikorita dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Sabtu.   Dia mengatakan Indonesia sudah sering dituding sebagai penyumbang emisi (emitter) gas rumah kaca (GRK) dan parahnya tingkat pencemaran udara.   Dwikorita mencontohkan, pada 2004, Reuters menurunkan tulisan yang menyebut Indonesia sebagai negara emitter terbesar ketiga dunia karena deforestasi, degradasi lahan gambut dan kebakaran hutan.   Tulisan tersebut didasarkan pada laporan penelitian yang dibuat oleh sebuah lembaga konsultan penelitian lingkungan Indonesia yang mendapat sponsor dari Bank Dunia dan British Development Arm.   Pada 2014, World Resources Institute (WRI) masih menempatkan Indonesia dalam urutan ke-6 yang menyumbang empat persen dari total kumulatif emisi gas rumah kaca dunia periode 1990-2011. Perhitungan total kumulatif GRK itu sudah menyertakan perubahan guna lahan dan kehutanan.   Namun pada 2017, sebuah penelitian terbaru oleh Boden, dkk (2017) yang berjudul National CO2 Emissions from Fossil-Fuel Burning, Cement Manufacture, and Gas Flaring yang diterbitkan oleh Carbon Dioxide Information Analysis Center, Oak Ridge National Laboratory, U.S. Department of Energy, ternyata tidak menyertakan Indonesia di dalam enam negara emitter dunia terbesar.   Keenam negara penyumbang emisi dunia yang disebutkan oleh studi tersebut diantaranya Cina, Amerika Serikat, Uni Eropa, India, Rusia dan Jepang.   Senada dengan publikasi ilmiah tersebut, laporan Climate Change Performance Index (2018) juga mengeluarkan Indonesia dari 10 besar penyumbang emisi terbesar dunia dan menempatkannya pada ranking 14, meskipun menurut laporan tersebut, Indonesia masih diklasifikasikan sebagai negara berkinerja rendah di 2018 sebab tren masa lalu dan status emisi GRK per kapita saat ini dinilai masih sangat rendah.   Secara bukti data, pun hasil pengukuran GRK di Bukit Koto Tabang selama 14 tahun terakhir sejak 2004, laju kenaikan CO2 di Indonesia adalah 1,94 ppm, tidak setinggi konsentrasi hasil pengukuran di Stasiun GAW Mauna Loa (USA), bahkan masih dibawah kenaikan rata-rata global sebesar 2,08 ppm.   "Indonesia sudah seringkali dituding sebagai negara yang paling emisif GRK-nya di dunia, namun penilaian dan penelitian lembaga ternama lainnya maupun data riil GRK terukur di lapangan pun membantah tudingan itu," jelas Dwikorita.   Demikian pula dalam hal pencemaran udara baru-baru ini. Pemberitaan media Al Jazeera pada Jumat 17 Agustus 2018 yang bertajuk Air pollution welcomes athletes in Jakarta for Asian Games, bahkan menyatakan bahwa tingkat polusi udara di Jakarta telah meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir.   "Dengan mengacu standar WHO ada pihak-pihak yang mengatakan pada beberapa hari tingkat polusi udara Jakarta lebih buruk dari pada Beijing," ungkap Dwikorita.   Senada dengan hal itu, pemberitaan BBC Indonesia juga menyebut Jelang Asian Games 2018, Jakarta jadi kota berpolusi udara paling parah di dunia.   Mantan Rektor UGM itu menerangkan, tuduhan polusi Jakarta terparah di dunia itu berbeda dengan apa yang dirilis The New York Times, Juni 2017 lalu dimana ranking 10 negara terburuk dalam hal polusi, adalah Cina, Amerika Serikat, India, Rusia, Jepang, Jerman, Iran, Arab Saudi, Korea Selatan dan Kanada,   Penelitian terbaru WHO tentang kota-kota yang paling tercemar di dunia menunjukkan, dari 10 kota paling tercemar di dunia, sembilan di antaranya ada di India dan satu di Kamerun. Sumber : ANTARA News

Baca lebih lanjut

Dinas Kesehatan Berupaya Sadarkan Masyarakat Tentang Kesehatan Lingkungan

2018-07-30 09:36:09

BORNEONEWS, Pulang Pisau- Dinas Kesehatan Kabupaten Pulang Pisau berupaya menyadarkan masyarakat tentang kesehatan lingkungan hingga ke daerah pelosok.   Upaya itu dilakukan berkaitan dengan program Open Defecation Free (ODF) atau stop buang air besar sembarangan yang sedang digalakan pemerintah. "Tentu saja harapan kita bisa dilaksanakan secara berkelanjutan ke seluruh desa dan kelurahan di wilayah Kabupaten Pulang Pisau," kata Kepala Dinas Kesehatan Pulang Pisau Muliyanto Budihardjo, beberapa waktu lalu.  ODF merupakan program dari Kementerian Kesehatan untuk menuju lingkungan sehat. Program ini baru dicanangkan di tiga desa, yakni Mantaren II di Kecamatan Kahayan Hilir, Tuwung di Kecamatan Kahayan Tengah, dan Manen Paduran di Kecamatan Banama Tingang. "Program ini mempunyai nilai dan andil sangat besar untuk membangun dan mewujudkan derajat kesehatan masyarakat," sebut Muliyanto Ia melanjutkan, penyakit diare di Kabupaten Pulang Pisau sejauh ini masih menjadi tantangan besar bagi Dinas Kesehatan. "Harapan kita denga ada ODF ini mempunyai dampak yang sangat besar dan berpengaruh bagi peningkatan sumber daya manusia (SDM)," tuturnya.(JAMES DONNY/B-3)

Baca lebih lanjut

Bahaya Mengintai di Balik Nikmatnya Sayuran Goreng

2018-09-10 13:50:13

Sumber : CNN indonesia

Baca lebih lanjut

Waspada Makanan Mengandung Borax dan Formalin

2018-08-13 09:43:40

Baca lebih lanjut

Bahaya Zat Pewarna Tekstil Pada Makanan

2018-06-25 09:32:47

Baca lebih lanjut

Produsen dari :

Distributor Resmi dari :