Agenda brosur katalog alat kesehatan lingkungan
Brosur katalog alat kesehatan lingkungan
19 Jun 2017

Intensifikasi Pengawasan Pangan Selama Ramadhan Badan Pom Sidak Pangan Takjil Di Kawasan Jakarta Pusat

Jakarta – Sebagai rangkaian dari intensifikasi pengawasan pangan jelang Ramadhan dan Idul Fitri 2017, Badan POM melalui Balai Besar POM di Jakarta melakukan sidak terhadap pangan takjil yang dijajakan di Pasar Benhil, Jakarta Pusat (02/06). Target sidak adalah pangan takjil yang diduga mengandung bahan berbahaya seperti formalin, boraks, rhodamin B, dan methanyl yellow.

Pada sidak hari ini, petugas melakukan sampling terhadap 46 pedagang dan mengambil sebanyak 52 item sampel pangan takjil. Dari hasil pengujian menggunakan rapid test kit untuk mengetahui ada atau tidaknya kandungan bahan berbahaya pada sampel, diperoleh temuan 2 item pangan takjil yang mengandung bahan berbahaya, yaitu kue apem mengandung bahan pewarna non-pangan Rhodamin B dan kerupuk mengandung boraks.

 “Sebelum Ramadhan, Badan POM bekerja sama dengan Pemerintah Daerah melakukan pembinaan dan memberikan edukasi kepada pelaku usaha, terutama pedagang pangan siap saji, untuk tidak menggunakan bahan berbahaya pada produknya. Setelah pembinaan, jika nanti ditemukan masih ada pedagang yang menggunakan bahan berbahaya, kami akan langsung menindak tegas pelanggaran tersebut”, jelas Kepala Badan POM, Penny K. Lukito, saat hadir di Pasar Benhil, Jakarta Pusat. Selain Kepala Badan POM RI dan Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan POM, sidak pangan takjil hari ini juga dihadiri oleh Plt. Gubernur DKI Jakarta beserta jajaran.

Kegiatan sidak pangan takjil selama Ramadhan 2017 tidak hanya dilakukan di wilayah Jakarta, namun juga di seluruh wilayah Indonesia. Selama periode 2014 – 2016 lalu, hasil intensifikasi pengawasan pangan takjil menunjukkan masih adanya pangan takjil yang tidak memenuhi syarat karena mengandung bahan berbahaya. Kandungan formalin didapati pada bakso, bubur sumsum, es buah, dan agar-agar. Kandungan boraks ditemui pada bakso, cincau, cimol, lontong, tahu, sotong, kerupuk, dan mi. Sementara kandungan rhodamin B ditemui pada bubur mutiara, pacar cina, cendol, es delima, agar-agar, kue lapis, terasi, kerupuk, dan sirup merah.

“Sekalipun masih ada, namun jumlah temuan pangan takjil mengandung bahan berbahaya terus menunjukkan penurunan selama 3 tahun terakhir. Demikian pula dengan temuan di wilayah Jakarta, yaitu 21,16% pangan takjil yang tidak memenuhi syarat di tahun 2014, lalu turun menjadi 12,46% di tahun 2015, dan kembali turun menjadi 6,23% di tahun 2016. Harapannya jumlah temuan di akhir pelaksanaan intensifikasi pengawasan pangan tahun ini dapat semakin menunjukkan perbaikan dari tahun-tahun sebelumnya”, papar Kepala Badan POM lebih lanjut.

Badan POM kembali mengimbau kepada para pelaku usaha untuk terus menaati peraturan yang berlaku, terutama para pelaku usaha pangan agar tidak lagi menggunakan bahan tambahan non-pangan yang membahayakan kesehatan. Masyarakat juga diimbau agar menjadi konsumen cerdas dan lebih proaktif dalam memilih pangan yang dibeli untuk menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah puasa. Teliti sebelum membeli pangan takjil, terlebih untuk beberapa jenis pangan takjil yang seringkali ditemukan mengandung bahan berbahaya. Pangan takjil harus higienis dan aman dari bahan berbahaya yang sering disalahgunakan dalam pangan yaitu boraks, formalin, rhodamin B dan methanyl yellow.

 Sumber : www.pom.go.id

Back to news list

07 April 2017

Bicara soal Hari Kesehatan Dunia, WHO-lah yang pertama kali mencetuskan peringatannya pada tanggal 7 April yang kini selalu diperingati setiap tahun. Namun, tahukah Anda pada tahun berapa Hari Kesehatan Dunia pertama kali diresmikan? Apakah ada kesamaan dengan tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia?

Well, bila di tahun 1945 merupakan momen pembentukan WHO, maka Hari Kesehatan Dunia pertama kali dicetuskan tiga tahun setelahnya, tepatnya tahun 1948. Hari Kesehatan Dunia sendiri diperingati untuk menandai kesuksesan didirikannya WHO yang memiliki visi dan misi “mengajak” dunia untuk lebih peduli dengan isu kesehatan.

WHO berharap dengan adanya peringatan Hari Kesehatan Dunia ini, masyarakat global akan lebih sadar betapa mahalnya “harga” kesehatan yang pada akhirnya akan diikuti dengan aksi perubahan gaya hidup menuju ke arah yang lebih baik.

Sumber: breaktime.co.id