Agenda brosur katalog alat kesehatan lingkungan
Brosur katalog alat kesehatan lingkungan
19 Jun 2017

PENARIKAN PRODUK MI INSTAN ASAL KOREA YANG MENGANDUNG BABI

Jakarta – Badan POM menerbitkan izin edar produk makanan setelah dilakukan evaluasi terhadap aspek keamanan, mutu, gizi, serta label. Dalam peraturan Kepala Badan POM Nomor 12 Tahun 2016 dinyatakan bahwa pangan olahan yang mengandung bahan tertentu yang berasal dari babi harus mencantumkan tanda khusus berupa tulisan “MENGANDUNG BABI” dan gambar babi berwarna merah dalam kotak berwarna merah diatas dasar warna putih.

Badan POM juga melakukan pengawasan terhadap produk yang beredar di pasaran (post-market vigilance) termasuk produk yang mengandung babi atau diduga mengandung babi dengan cara (1) penempatan termasuk display di sarana ritel, yaitu produk yang mengandung babi harus diletakkan terpisah dari produk non babi dengan diberikan keterangan “MENGANDUNG BABI”, dan (2) pengambilan contoh dan pengujian terhadap parameter DNA spesifik babi.

 Badan POM telah melakukan pengambilan sampel dan pengujian terhadap beberapa produk mi instan asal Korea. Dari beberapa produk yang telah dilakukan pengujian terhadap parameter DNA spesifik babi, beberapa produk menunjukkan positif (+) terdeteksi mengandung DNA babi yaitu:

 No.

Nama Dagang

Nama Produk

Nomor Izin Edar

Importir

1.

Samyang

Mi Instan U-Dong

BPOM RI ML 231509497014

PT. Koin Bumi

2.

Nongshim

Mi Instan (Shim Ramyun Black)

BPOM RI ML 231509052014

PT. Koin Bumi

3.

Samyang

Mi Instan Rasa Kimchi

BPOM RI ML 231509448014

PT. Koin Bumi

4.

Ottogi

Mi Instan (Yeul Ramen)

BPOM RI ML 231509284014

PT. Koin Bumi

 

Berdasarkan pengecekan label diketahui bahwa produk yang mengandung babi tersebut tidak mencantumkan peringatan “MENGANDUNG BABI”. Importir juga tidak menginformasikan kepada Badan POM saat pendaftaran untuk mendapatkan izin edar bahwa produk yang didaftarkan tersebut mengandung babi. Terhadap produk-produk tersebut, Badan POM telah memerintahkan importir yang bersangkutan untuk menarik produk dari peredaran.

Sebagai langkah antisipasi dan perlindungan konsumen, Badan POM menginstruksikan Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia untuk terus melakukan penarikan terhadap produk yang tidak memenuhi ketentuan, termasuk yang terdeteksi positif (+) mengandung DNA babi, namun tidak mencantumkan peringatan “MENGANDUNG BABI”.

Badan POM terus mengimbau pelaku usaha agar selalu menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam menjalankan usahanya. Masyarakat diharapkan dapat berpartisipasi aktif dengan melaporkan apabila menemukan hal-hal yang mencurigakan terkait peredaran Obat dan Makanan yang tidak memenuhi ketentuan. Masyarakat harus menjadi konsumen cerdas dengan selalu "Cek KLIK". Pastikan kemasan dalam kondisi baik, cek informasi produk pada labelnya, pastikan memiliki Izin edar Badan POM, dan pastikan tidak melebihi masa Kedaluwarsa. Masyarakat juga dapat mengecek legalitas produk Obat dan Makanan melalui website Badan POM atau aplikasi android “CekBPOM”.

 

Back to news list

07 April 2017

Bicara soal Hari Kesehatan Dunia, WHO-lah yang pertama kali mencetuskan peringatannya pada tanggal 7 April yang kini selalu diperingati setiap tahun. Namun, tahukah Anda pada tahun berapa Hari Kesehatan Dunia pertama kali diresmikan? Apakah ada kesamaan dengan tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia?

Well, bila di tahun 1945 merupakan momen pembentukan WHO, maka Hari Kesehatan Dunia pertama kali dicetuskan tiga tahun setelahnya, tepatnya tahun 1948. Hari Kesehatan Dunia sendiri diperingati untuk menandai kesuksesan didirikannya WHO yang memiliki visi dan misi “mengajak” dunia untuk lebih peduli dengan isu kesehatan.

WHO berharap dengan adanya peringatan Hari Kesehatan Dunia ini, masyarakat global akan lebih sadar betapa mahalnya “harga” kesehatan yang pada akhirnya akan diikuti dengan aksi perubahan gaya hidup menuju ke arah yang lebih baik.

Sumber: breaktime.co.id